Tugas Softskill ke-2 (Organisasi Dan Metode)
Bab1.
Tipe
atau bentuk organisasi.
Berdasarkan suatu jumlah pemegang pimpinan organisasinya ada dua
bentuk pokok, yaitu (1) bentuk tunggal dan (2) bentuk komisi.
Bentuk
tunggal, bentuk ini biasanya
terdapat pada organisasi yang masih sederhana. Pucuk pimpinan berada di dalam
tangan satu orang. Semua kekuasaan dan tugas pekerjaan bersumber pada pimpinan.
Demikian pula tanggung jawab dalam organisasi melalui tingkat tingkat
pengawasan yang pada akhirnya kepada si pemimpin tunggal itu ia akan
bertanggung jawab terhadap organisasi keseluruhan. Missal dalam bidang
pemerintahan, Presiden, Menteri. Dalam bidang kemiliteran, misalnya Panglima,
Komandan. Dalam bidang pendidikan, misalnya Rektor, Dekan. Manajer pada sebuah
perusahaan sebagimana pada gambar 11.
Salah
satu kebaikan organisasi bentuk tunggal ini bahwa segala sesuatu dapat
diputuskan dengan cepat oleh pimpinan. Dalam mengemudikan roda organisasi,
pimpinan bertanggung jawab sepenuhnya. Kebaikannya kalau pimpinan itu seorang
yang luas pengetahuan dan pandangannya, serta serta cakap memimpin orang-orang
dibawahnya. Mempumnyai kegiatan jasmani dan rohani yang kuat maka organisasi
bentuk tunggal ini berjalan dengan baik karna segala keputusan cepat dapat
diptutuskan dan dilaksanakan.
Bentuk
komisi, dalam bentuk ini suatu
organisasi dapat mempunnyai puncak pimpinan berupa sebuah dewan yang terdiri
atas beberapa orang. Semua kekuasaan dan tanggung jawab dipikul oleh dewan itu
sebagai kesatuan, demikian pula keputusan-keputusan diambil oleh beberapa orang
sebagai suatu keseluruhan dalam menjalankan pimpinan organisasi. Bentuk komisi
ini banyak dipakai bagi organisasi-organisasi yang mempunyai tugas membuat
peraturan-peraturan atau memberikan pertimbangan-pertimbangan. Seperti pada
gambar 12.
gambar12
Salah satu kebaikan organisasi bentuk ini adalah bila tugas
pekerjaan pimpinan sangat banyak sehingga tidak mungkin terpikul oleh satu
orang, maka dapat diadakan pembagian kerja diantar orang orang itu, selain itu
dalam bidang administrasi atau kehakiman, keputusan keputusan yang diambil oleh
beberapa orang, pada umumnya lebih tepat daripada hanya berdasarkan
pertimbangan satu orang.
B. Organisai dilihat dari sudut lalu lintas
kekuasaan dan tanggung jawab serta hubungn kerja pada kesatuan administrasi
organisasi tersebut, yaitu:
- Bentuk line (lurus atau hirarki)
- Bentuk staf atau fungsional
- Bentuk gabungan staf dan line
- Bentuk organisasi system panitia
Bentuk line, organisasi bentuk line disebut juga “organisasi hirarki”. Pada bentuk ini kekuasaan dan tnaggung jawab berjalan dari pimipinan sampai ke bawah, yaitu kepada para pejabat yang memimpin kesatuan-kesatuan organisasi. Organisasi ini sifatnya langsung, lalu lintas kekuasaan berlangsung secara vertical. Pada umumnya tipe organisasi ini masih kecil dan sederhana sehingga hubungan kerja antar pimpinan dan bawahan pada umunya dilaksanakan secara langsung(face to face). Pimpinan organisasi ini menjadi pimpinan tertinggi.
Secara sederhana
bagannya adalah sebagai berikut.
Gambar
7.1 Organisasi line(garis)
Organisasi jenis ini efektif untuk organisasi atau perusahaan-perusahaan yang belum berkembang. Setiap atsan diminta pengetahuan dan pandangannya yang luas sebab ia tidak mempunyai pembantu ahli yang dapat memberi nasehat atas saran dari berbagai bidan keahlian yang mencangkup kegiatan organisasi tersebut, kelemahan organisasi bentuk line, jika organisasi makin luas dan kompleks maka sukar untuk memperoleh pejabat-pejabat yang pandai dalam berbagia hal.
Bentuk staf, istilah ini berasal dari ketentaraan, staf sesungguhnya hanya
bertugas memberi nasihat dan anjuran. James mooney di dalam bukunya “the
principles of organization” mengatakan, sebenarnya staf mewakili
kekuasaan berpikir, sedangkan lini mewakili kekuasaan atas manusia.
bentuk organisasi staf ini sering pula disebut organisasi fungsional. Pada kekuasaan ini kekuasaan dilimpahkan melalui para ahli dalam suatu fungsi yang merupakan bidang keahliannya. Sebalikmya tiap-tiap ahli itu mempunyai kekuasaan mengenai bidang keahliannya terhadap setiap pejabat dikesatuan manapun, tetapi ia tidak berhak memerintah secara langsung, ia mempunyai kewenangan untuk menyarankan dan memberi nasehat. Seperti gambar 89.
pencipta dari organisasi fungsional ini ialah F.W. Taylor dengan tujuan untuk
menambah produktivitas dan melancarkan pekerjaan dalam pabrik. Karena tugas
pekerjaannya lebih terbatas. Namun, salah satu kelemahan dari organisasi ini
bahwa pengendalian dan koordinasi menjadi lebih sukar untuk dilaksanaka akibat
dari saluan perintah dan tanggung jmenyilang ke sana-sini.
Lalu lintas pada kekuasaan organisasi berbentuk fungsional, sifatnya tidak langsung dan tidak berbentuk vertical. Seorang pejabat dapat menerima perintah dari beberapa orang, tetapi masing-masing hanya mengenai satu fungsi tertentu. Seorang pejabat yang melakukan tugas pengawasan pun hanya mengawasi para pekerja dalam satu segi tertentu.
Bentuk Gabungan Antar Staf dan Line,
Nah untuk menghindari kelemahan-kelemahan dari bentuk organisasi staf atau line maka paling banyak dikenal dalam praktek dan dianggap baik, yaitu bentuk organisasi campuran antara line dan staff. Di satu pihak, organisasi di susun dalam bentuk lurus/line, di pihak lain, diadakan pejabat-pejabat ahli, yaitu untuk memberikan nasihat dan bantuan terhadap kesatuan-kesatuan tertentu. Tiap-tiap pejabat ahli memimpin suatu kesatuan mengenai fungsi tertentu, misalnya kepegawaian, pembelajaan alat-alat, dan perhitungan biaya. Kesatuan-kesatuan dari para ahli dalam suatu fungsi itu tugas uatamanya adalah melayani kesatuan-kesatuan yang langsung menjalankan tugas pekerjaan pokok organisasi tersebut. Hal ini berlainan dengan organisasi bentuk fungsional. Tenaga-tenaga ahli ini tidak mempunyai kekuasaan untuk langsung memerintah para pekerja atau meminta tanggung jawab mereka. Saluran hubungan sesuai antar kedua kesatuan itu dilakukan pejabat yang berada diatas mereka. Sebagaimana pada gambar 7.3
Nah untuk menghindari kelemahan-kelemahan dari bentuk organisasi staf atau line maka paling banyak dikenal dalam praktek dan dianggap baik, yaitu bentuk organisasi campuran antara line dan staff. Di satu pihak, organisasi di susun dalam bentuk lurus/line, di pihak lain, diadakan pejabat-pejabat ahli, yaitu untuk memberikan nasihat dan bantuan terhadap kesatuan-kesatuan tertentu. Tiap-tiap pejabat ahli memimpin suatu kesatuan mengenai fungsi tertentu, misalnya kepegawaian, pembelajaan alat-alat, dan perhitungan biaya. Kesatuan-kesatuan dari para ahli dalam suatu fungsi itu tugas uatamanya adalah melayani kesatuan-kesatuan yang langsung menjalankan tugas pekerjaan pokok organisasi tersebut. Hal ini berlainan dengan organisasi bentuk fungsional. Tenaga-tenaga ahli ini tidak mempunyai kekuasaan untuk langsung memerintah para pekerja atau meminta tanggung jawab mereka. Saluran hubungan sesuai antar kedua kesatuan itu dilakukan pejabat yang berada diatas mereka. Sebagaimana pada gambar 7.3
Organisasi bentuk campuran ini sekarang banyak dipakai dalam praktek karena bentuk ini mempersatukan hal-hal yang baik pada betuk lurus dan staf. Saluran perintah dan tanggung jawab mengenai tugas pokok organisasi yang bersangkutan menurut bentuk lurus. Dengan demikian, kesederhanaan dan ketegasan serta pembagian tugas pekerjaan dapat terjamin. Selain itu, para pejabat pelaksana pekerjaan pokok itu diberi kemungkinan untuk memperoleh bantuan para ahli di dalam melaksanakan tugasnya. Pelayanan yang diberikan oleh tenaga ahli itu, misalnya dalam membuat rencana kerja(progam kerja), memilih salah satu cara kerja yang paling efesien, membeli alat yang paling cocok dan tertib, dan melatih para pegawai yang membutuhkan pendidikan tambahan. Seorang wakil direktur yang bertugas dalam bidang-bidang produksi, misalnya di dalam organisasi line ia bukan seorang staf. Akan tetapi, sebagai manjer oleh pucuk pimpinan ia diberi kekuasaaan dan tanggung jawab dalam ruang lingkup tugasnya. Ia berada langsung dibawah direktur, tetapi bila dalam sebuah panitia, misalnya ia diminta turut serta sebagai penasehat, maka dalam hal ini berarti dia sedang bertindak sebagai staf.
Bentuk
organisasi system panitia,
Organisasi jenis ini bukan merupakan jenis organisasi yang berdiri sendiri, karna setiap struktur organisasi yang demikian kelak tampak dengan jelas merupakan modifikasi dari salah satu bentuk lain baik line maupun staf. Panita adalah sekelompok orang yang siap sebagai suatu kelompok yang mendapat kepercayaan untuk beberapa hal tertentu. Kedudukan panitia tergantung dari tugasnya. Bila bertugas sebagai penasehat atau melayani unsur lain di dalam organisasi, ia berperan sebagai staf. Sebaliknya, panitia yang melakukan tugas pemimpin, misalnya menentukan keputusan, maka ia berkedudukan sebagai line. Jadi, sesuai dengan proporsinya terdapat berjenis-jenis panitia, ada yang berposisi line, staf dan pimpinan. Seperti padagambar94.
Organisasi jenis ini bukan merupakan jenis organisasi yang berdiri sendiri, karna setiap struktur organisasi yang demikian kelak tampak dengan jelas merupakan modifikasi dari salah satu bentuk lain baik line maupun staf. Panita adalah sekelompok orang yang siap sebagai suatu kelompok yang mendapat kepercayaan untuk beberapa hal tertentu. Kedudukan panitia tergantung dari tugasnya. Bila bertugas sebagai penasehat atau melayani unsur lain di dalam organisasi, ia berperan sebagai staf. Sebaliknya, panitia yang melakukan tugas pemimpin, misalnya menentukan keputusan, maka ia berkedudukan sebagai line. Jadi, sesuai dengan proporsinya terdapat berjenis-jenis panitia, ada yang berposisi line, staf dan pimpinan. Seperti padagambar94.
Penggunaan panitia bukan saja dalam perusahaan-perusahaan, melainkan juga terdapat pula dalam kegiatan yang lebih luas, misalnya pemerintahan, lembaga pendidikan, dan kemiliteran. Didalam pemerintahan, misalnya MPR,DPR, DPA dan panitia korban banjir. Panitia dapat didirikan untuk waktu yang terbatas dan dapat pula untuk waktu yang tidak terbatas, salah satu kebaikan panitia adalah keputusan yang diambil pada umumnya tepat karna dibicarakan secara kolektif dan musyawarah terlebih dahulu oleh kelompok pimpinan organisasi, dan mencegah kemungkinan bagi seseorang untuk bertindak dan mempunyai kekuasaan yang berlebihan dan sewenang-wenang. Tentu saja bentuk panitia mempunyai beberapa kelemahan salah satunya adalah proses pengambilan keputusan biasanya berjalan lambat karena segala sesuatu harus melalui musyawarah, dan ketika timbul kemacetan sukar untuk diminta pertanggungjawaban pada satu orang karna itu dibebankan pada beberapa orang sebagai kesatuan.
Bentuk-bentuk Bagan
Organisasi :
• Bentuk
Piramid.
Bentuk Ini Yang Paling Banyak Diguakan, Karena Sederhana, Jelas Dan Mudah Dimengerti.
• Bentuk
Vertikal.
Bentuk Vertikal Agak
Menyerupai Bentuk Piramid, Yaitu Dalam Pelimpahan Kekuasaan Dari Atas Ke Bawah,
Hanya Bagan Vertikal Berwujud Tegak Sepenuhnya.
• Bentuk
Horizontal.
Bagan Ini Digambarkan
Secara Mendatar.
• Bentuk
Lingkaran.
Bab2
Struktur
Atau Skema Organisasi
Struktur organisasi(disain organisasi dapat didefinisikan sebagai mekanisme-mekanisme formal dengan mana organisasi dikelola. Struktur organisasi menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan diantara fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi-posisi, maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan, tugas wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi. Struktur ini mengandung unsur unsur spesialisasi kerja, standardisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam pembuatan keputusan dan besaran (ukuran) satuan kerja. Seperti pada gambar 7.
Gambar
7.
Adapun faktor-faktor
utama yang menentukan perancangan struktur organisasi adalah sebagai berikut:
1.Strategi
organisasi untuk mencapai tujuannya, yang pada dasarnya “struktur mengikuti
strategi”. Strategi akan menjelaskan bagaimana aliran wewenang dan saluran
komunikasi dapat disusun diantara para manajer dan bawahan. Aliran kerja sangat
dipengaruhi strategi, sehingga bila strategi berubah maka struktur organisasi
juga berubah.
2.teknologi yang
digunakan. Perbedaan teknologi yang digunakan untuk memproduksi barang barang
atau jasa akan membedakan bentuk strutur organisasi . sebagai contoh,
perusahaan mobil yang mempergunakan teknologi indrustri masal akan memerlukan
tingkat standardisasi dan spesialisasi yang lebih tinggi dibandingkan
perusahaan industri pakaian jadi yang mengutamakan perubahan mode.
3.Anggota
(karyawan) dan orang-orang yang terllibat dalam organisasi. Kemampuan
dan cara berpikir para anggota, serta kebutuhan mereka untuk bekerja sama harus
diperhatikan dalam merancang struktur organisasi. Kebutuhan manajer dalam
pembuatan keputusan juga akan mempengaruhi saluran komunikasi, wewenang dan
hubungan diantara satuan satuan kerja pada rancangan struktur organisasi. Di
samping itu, orang-orang diluar organisasi, seperti pelanggan, supplier, dan
sebagainya perlu dipertimbangkan dalam penyusunan struktur.
4.Ukurann organisasi. Besarnya
organisasi secara keseluruhan maupun satuan-satuan kerjanya akan sangat
mempengaruhi struktur organisasi. Semakin besar ukuran organisasi, struktur
organisasi akan semakin kompleks, dan harus dipilih dengan struktur yang tepat.
Sedangkan unsur-unsur
struktur organisasi terdiri dari :
1.spesialisasi
kegiatan berkenaan dengan spesifikasi tugas-tugas individual dan
kelompok kerja dalam organisasi (pembagian kerja) dan penyatuan tugas-tugas
tersebut menjadi satuan-satuan kerja(departementalisasi)
2.standardidasi
kegiatan, merupakan prosedur-prosedur yang digunakan organisasi untuk
menjamin terlaksananya kegiatan seperti yang direncanakan.
3.kooordinasi
kegiatan, menunjukkan prosedur-prosedur yang mengintegrasikan
fungsi-fungsi satuan kerja dalam organisasi.
4.sentralisasi dan
desentralisasi pembuatan keputusan, yang menunjukkan lokasi (letak)
kekuasaan
pembuatn keputusan.
5. ukuran
satuan kerja menujukkan jumlah kaaryawan dalam suatu kelompok
Bab3
Dinamika
Konflik
A. Jenis
dan Sumber Konflik
Konflik organisasi (Organizational conflik) adalah
ketidaksesuaian antara dua atau lebih anggota-anggota atau kelompok organisasi
yang harus membagi sumber daya yang terbatas atau kegiatan- kegiatan kerja dan
atau karena kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan status, tujuan, nilai
atau persepsi. Konflik organisasi juga dapat diartikan sebagai perilaku anggota
organisasi yang dicurahkan untuk beroposisi terhadap anggota yang lain.
Pada dasarnya proses konflik bermula pada saat satu
pihak dibuat tidak senang oleh, atau akan berbuat tidak menyenangkan kepada
pihak lain mengenai suatu hal yang oleh pihak pertama dianggap penting.
Perbedaan konflik dan persaingan (kompetisi)
terletak pada apakah salah satu pihak mampu untuk menjaga dirinya dari gangguan
pihak lain dalam pencapaian tujuannya. Persaingan ada, bila tujuan pihak- pihak
yang terlibat adalah tidak sesuai tetapi pihak- pihak tersebut tidak dapat
saling mengganggu. Sebagai contoh, dua kelompok mungkin saling bersaing untuk
memenuhi target, bila tidak ada kesempatan untuk mengganggu pencapaian tujuan
pihak lain, situasi persaingan terjadi, tetapi bila ada kesempatan untuk
mengganggu dan kesempatan tersebut digunakan, maka akan timbul konflik.
Kerjasama(kooperasi) terjadi bila dua pihak atau
lebih bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama. Konflik dan kooperasi
dapat terjadi bersamaan. Lawan kata kooperasi bukan konflik, tetapi kurangnya
kooperasi (kerjasama). Sebagai contoh, dua pihak setuju pada tujuan,tetapi
tidak setuju dengan cara pencapaian tujuan tersebut. Manajemen konflik berarti
bahwa para manajer harus berusaha menemukan cara untuk menyeimbangkan konflik
dan kooperasi.
Jenis- Jenis Konflik
Ada lima jenis konflik dalam kehidupan organisasi,
yaitu:
1. Konflik
dalam diri individu, yang terjadi bila seorang individu menghadapi
ketidakpastian tentang pekerjaan yang dia harapkan untuk melaksanakannya, bila
berbagai permintaan pekerjaan saling bertentangan, atau bila individu
diharapkan untuk melakukan lebih dari kemampuannya.
2. Konflik
antar individu dalam organisasi yang sama. Hal ini sering disebabkan oleh
perbedaan- perbedaan kepribadian. Konflik ini juga berasal dari adanya konflik
antar peranan seperti antara manajer dan bawahan.
3. Konflik
antar individu dan kelompok, yang berhubungan dengan cara individu menanggapi
tekanan untuk keseragaman yang dipaksakan oleh kelompok kerja mereka, seperti
seorang individu dihukum atau diasingkan oleh kelompok kerjanya karena
melanggar norma- norma kelompok.
4. Konflik
antar kelompok dalam organisasi yang sama. Karena terjadi pertentangan
kepentingan antar kelompok.
5. Konflik
antar organisasi, yang timbul sebagai akibat bentuk persaingan ekonomi dalam
sistem perekonomian suatu negara. Konflik ini telah mengarahkan timbulnya
pengembangan produk baru, teknologi, harga- harga lebih rendah, dan penggunaan
sumber daya yang lebih efisien.
Sumber- Sumber Konflik
Faktor- faktor penyebab konflik beraneka ragam,
yaitu:
1. Komunikasi:
pengertian yang berkenaan dengan kalimat, bahasa yang sulit dimengerti atau
informasi yang mendua dan tidak lengkap serta gaya individu manajer yang tidak
konsisten.
2. Struktur:
Pertarungan kekuasaan antar departemen dengan kepentingan- kepentingan atau
sistem penilaian yang bertentangan, persaingan untuk memperebutkan sumber daya
yang terbatas, atau saling ketergantungan dua atau lebih kelompok- kelompok
kegiatan kerja untuk mencapai tujuan mereka.
3. Pribadi:
ketidaksesuaian tujuan atau nilai- nilai social pribadi karyawan dengan
perilaku yang diperankan pada jabatan mereka dan perbedaan dalam nilai- nilai
atau persepsi.
4. Kelangkaan
sumber daya dan dana yang langka. Hal ini karena suatu individu atau organisasi
yang memiliki sumber daya dan dana yang terbatas.
5. Saling
ketergantungan pekerjaan.
6. Ketergantungan
pekerjaan satu arah. Berbeda dengan sebelumnya, ketergantungan pekerjaan satu
arah berarti bahwa keseimbangan kekuasaan telah bergeser, konflik pasti lebih
tinggi karena unit yang dominan mempunyai dorongan yang sedikit saja untuk
bekerja sama dengan unit yang berada di bawahnya.
7. Ketidakjelasan
tanggung jawab atau yurisdiksi. Dalam hal tertentu, pada dasarnya orang memang
tidak ingin bertanggung jawab, terlebih mengenai hal- hal yang berakibat tidak
atau kurang menguntungkan. Apabila hal ini menyangkut beberapa pihak dan
masing- masing tidak mau bertanggung jawab maka kejadian seperti ini dapat
menimbulkan konflik.
8. Ketidakterbukaan
terhadap satu sama lain
9. Ketidaksalingpercaya
antara satu orang dengan orang lain dalam organisasi.
10. Ketidakjelasan
pola pengambilan keputusan, pola pendelegasian wewenang, mekanisme kerja dan
pembagian tugas.
11. Kelompok
pimpinan tidak responsitif terhadap kebutuhan dan aspirasi para bawahannya.
12. Adanya
asumsi bahwa dalam organisasi terdapat berbagai kepentingan yang diperkirakan tidak dapat atau sulit diserasikan.
B. Strategi
Dan Penyelesaian Konflik
Penyelesaian
konflik oleh pemimpin dikategorikan dalam dua dimensi ialah
kerjasama/tidak kerjasama dan tegas/tidak tegas. Dengan menggunakan kedua macam
dimensi tersebut ada 5 macam pendekatan
penyelesaian konflik ialah sebagai
berikut :
1. Kompetisi
Penyelesaian konflik yang menggambarkan satu pihak
mengalahkan atau mengorbankan yang lain. Penyelesaian bentuk kompetisi dikenal
dengan istilah win-lose orientation.
2. Akomodasi
Penyelesaian konflik yang menggambarkan kompetisi
bayangan cermin yang memberikan keseluruhannya penyelesaian pada pihak lain
tanpa ada usaha memperjuangkan tujuannya sendiri. Proses tersebut adalah taktik
perdamaian.
3. Sharing
Suatu pendekatan penyelesaian kompromistis antara
dominasi kelompok dan kelompok damai. Satu pihak memberi dan yang lkain menerima
sesuatu. Kedua kelompok berpikiran moderat, tidak lengkap, tetapi memuaskan.
4. Kolaborasi
Bentuk usaha penyelesaian konflik yang memuaskan
kedua belah pihak. Usaha ini adalah pendekatan pemecahan problem
(problem-solving approach) yang memerlukan integrasi dari kedua pihak.
5.
Penghindaran
Menyangkut ketidakpedulian dari kedua kelompok.
Keadaaan ini menggambarkan penarikan kepentingan atau mengacuhkan kepentingan
kelompok lain.
Metode Penyelesaian Konflik
Ada tiga metode penyelesaian konflik yang sering
digunakan, yaitu dominasi atau penekanan, kompromi, dan pemecahan masalah
integratif.
Dominasi atau penekanan. Dominasi atau penekanan
dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
1. Kekerasan (forcing) yang bersifat penekanan
otokratik.
2. Penenangan (smoothing), merupakan cara yang lebih
diplomatis.
3. Penghindaran (avoidance) dimana manajer
menghindar untuk mengambil posisi yang tegas.
4. Aturan mayoritas (majority rule), mencoba untuk
menyelesaikan konflik antar kelompok dengan melakukan pemungutan suara (voting)
melalui prosedur yang adil.
Kompromi, manajer mencoba menyelesaikan konflik
melalui pencarian jalan tengah yang dapat diterima oleh pihak yang bertikai.
Menurut Wijono (1993 : 42-125) strategi mengatasi
konflik, yaitu:
1. Strategi Mengatasi Konflik Dalam Diri Individu
(Intraindividual Conflict)
Menurut Wijono (1993 : 42-66), untuk mengatasi
konflik dalam diri individu diperlukan paling tidak tujuh strategi yaitu:
1) Menciptakan kontak dan membina hubungan
2) Menumbuhkan rasa percaya dan penerimaan
3) Menumbuhkan kemampuan /kekuatan diri sendiri
4) Menentukan tujuan
5) Mencari beberapa alternative
6) Memilih alternative
7) Merencanakan pelaksanaan jalan keluar
2. Strategi Mengatasi Konflik Antar Pribadi
(Interpersonal Conflict)
Menurut Wijono (1993 : 66-112), untuk mengatasi
konflik dalam diri individu diperlukan paling tidak tiga strategi yaitu:
1) Strategi Kalah-Kalah (Lose-Lose Strategy)
Beorientasi pada dua individu atau kelompok yang
sama-sama kalah. Biasanya individu atau kelompok yang bertikai mengambil jalan
tengah (berkompromi) atau membayar sekelompok orang yang terlibat dalam konflik
atau menggunakan jasa orang atau kelompok ketiga sebagai penengah.
Dalam strategi kalah-kalah, konflik bisa
diselesaikan dengan cara melibatkan pihak ketiga bila perundingan mengalami
jalan buntu. Maka pihak ketiga diundang untuk campur tangan oleh pihak-pihak
yang berselisih atau barangkali bertindak atas kemauannya sendiri. Ada dua tipe
utama dalam campur tangan pihak ketiga yaitu:
a. Arbitrasi (Arbitration)
Arbitrasi merupakan prosedur di mana pihak ketiga
mendengarkan kedua belah pihak yang berselisih, pihak ketiga bertindak sebagai
hakim dan penengah dalam menentukan penyelesaian konflik melalui suatu
perjanjian yang mengikat.
b. Mediasi (Mediation)
Mediasi dipergunakan oleh Mediator untuk
menyelesaikan konflik tidak seperti yang diselesaikan oleh abriator, karena
seorang mediator tidak mempunyai wewenang secara langsung terhadap pihak-pihak
yang bertikai dan rekomendasi yang diberikan tidak mengikat.
2) Strategi Menang-Kalah (Win-Lose Strategy)
Dalam strategi saya menang anda kalah (win lose
strategy), menekankan adanya salah satu pihak yang sedang konflik mengalami
kekalahan tetapi yang lain memperoleh kemenangan.
Beberapa cara yang digunakan untuk menyelesaikan
konflik dengan win-lose strategy (Wijono, 1993 : 44), dapat melalui:
a. Penarikan diri, yaitu proses penyelesaian konflik
antara dua atau lebih pihak yang kurang puas sebagai akibat dari ketergantungan
tugas (task independence).
b. Taktik-taktik penghalusan dan damai, yaitu dengan
melakukan tindakan perdamaian dengan pihak lawan untuk menghindari terjadinya
konfrontasi terhadap perbedaan dan kekaburan dalam batas-batas bidang kerja
(jurisdictioanal ambiquity).
c. Bujukan, yaitu dengan membujuk pihak lain untuk
mengubah posisinya untuk mempertimbangkan informasi-informasi faktual yang
relevan dengan konflik, karena adanya rintangan komunikasi (communication
barriers).
d. Taktik paksaan dan penekanan, yaitu menggunakan
kekuasaan formal dengan menunjukkan kekuatan (power) melalui sikap otoriter
karena dipengaruhi oleh sifat-sifat individu (individual traits).
e. Taktik-taktik yang berorientasi pada
tawar-menawar dan pertukaran persetujuan sehingga tercapai suatu kompromi yang
dapat diterima oleh dua belah pihak, untuk menyelesaikan konflik yang berkaitan
dengan persaingan terhadap sumber-sumber (competition for resources) secara
optimal bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
3) Strategi Menang-Menang (Win-Win Strategy)
Penyelesaian yang dipandang manusiawi, karena
menggunakan segala pengetahuan, sikap dan keterampilan menciptakan relasi
komunikasi dan interaksi yang dapat membuat pihak-pihak yang terlibat saling
merasa aman dari ancaman, merasa dihargai, menciptakan suasana kondusif dan memperoleh
kesempatan untuk mengembangkan potensi masing-masing dalam upaya penyelesaian
konflik. Jadi strategi ini menolong memecahkan masalah pihak-pihak yang
terlibat dalam konflik, bukan hanya sekedar memojokkan orang.
Strategi menang-menang jarang dipergunakan dalam
organisasi dan industri, tetapi ada 2 cara didalam strategi ini yang dapat
dipergunakan sebagai alternatif pemecahan konflik interpersonal yaitu:
a. Pemecahan masalah terpadu (Integrative Problema
Solving) Usaha untuk menyelesaikan secara mufakat atau memadukan
kebutuhan-kebutuhan kedua belah pihak.
b. Konsultasi proses antar pihak (Inter-Party
Process Consultation) Dalam penyelesaian melalui konsultasi proses, biasanya
ditangani oleh konsultan proses, dimana keduanya tidak mempunyai kewenangan
untuk menyelesaikan konflik dengan kekuasaan atau menghakimi salah satu atau
kedua belah pihak yang terlibat konflik.
Bab4
Motivasi
Motivasi adalah
proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk
mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini diantaranya adalah
intensitas, arah, dan ketekunan
Pengertian motivasi dan definisi dalam organisasi berkisar pada dimensi subyektif, ada di dalam diri setiap individu, yang mendorong lahirnya aktivitas. Motivasi merupakan pendorong utama perilaku seseorang dalam suatu pekerjaan. Seorang pekerja menjadi rajin atau tidak rajin, kreatif atau tidak kreatif, dapat ditelusuri lewat motivasi yang ada di dalam dirinya. Perhatian serius pada masalah motivasi membuat pimpinan di suatu organisasi dalam memanfaatkan motivasi di dalam diri tiap pekerja untuk mencapai tujuan perusahaan.
Definisi Motivasi
Menurut Ellen A. Benowitz, motivasi adalah “kekuatan yang menyebabkan individu bertindak dengan cara tertentu. Orang punya motivasi tinggi akan lebih giat bekerja, sementara yang rendah akan sebaliknya.”[1] John R. Schemerhorn, et.al. mendefinisikan motivasi sebagai “mengacu pada pendorong di dalam diri individu yang berpengaruh atas tingkat, arah, dan gigihnya upaya seseorang dalam pekerjaannya.”[2] Laurie J. Mullins mendefinisikan motivasi sebagai “arahan dan kegigihan tindakan.”[3]
Motivasi menurut
Martin Covington adalah alasan yang
“... deals with the why of behavior: Why for example, do individuals choose to work on certain tasks and not on others: why do they exhibit more or less energy in the pursuit of these tasks and why do some people persist until the task is completed, whereas others give up before they really starts, or in some cases pursue more elegant solutions long after perfectly sensible answers have presented theselves.”[4]
Definisi lain mengenai
motivasi diajukan oleh Jere E. Brophy. Menurut Brophy, motivasi adalah “
... a theoretical
construct used to explain the initiation, direction, intensity, persistence,
and quality of behavior, especially goal-directed behavior. Motives are
hypotetical constructs used to explain why people are doing what they are
doing.”[5]
Selanjutnya, Jere E.
Brophy mengutarakan bahwa “... motivation is subjective and focused on the
reasons behind our choices and actions.”[6]
Bagi Brophy, motivasi
perlu dibedakan dengan tujuan maupun strategi. Ia memberi contoh, respon
seseorang atas lapar (motivasi) adalah dengan pergi ke restoran (strategi)
untuk mendapatkan makanan (tujuan). Hal yang senada dengan Brophy juga diujar
oleh Donna Walker Tileston bahwa
“... motivation
relates to the drive to do something. Motives are usually construed as
relatively general needs or desires that energize people to initiate purposeful
action sequences.[7]
Sehubungan dengan
dunia kerja, terdapat 2 jenis motivasi yaitu : (1) Motivasi Intrinsik dan (2)
Motivasi Ekstrinsik. Motivasi intrinsik berhubungan dengan reward nyata seperti
gaji, keamanan posisi, promosi, kontrak, lingkungan kerja, dan kondisi kerja.
Sebagian besar dari reward nyata ini ada di level organisasi dan berada di luar
kewenangan manajer selaku individu.
Motivasi intrinsik berhubungan dengan reward yang bersifat psikologis seperti kesempatan menggunakan kemampuan, rasa tertantang untuk berprestasi, menerima pujian, pengakuan positif, dan diperlakukan secara baik. Reward psikologis ini dapat diupayakan oleh manajer selaku individu karena berada di dalam kemampuannya.
Bab5
Teori
Motivasi
Motivasi merupakan
satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu
tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk
menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi
adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai
motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam
kehidupan..
Motivasi dapat berupa motivasi intrinsic dan ekstrinsic. Motivasi yang bersifat intinsik adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat seorang termotivasi, orang tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan tersebut bukan karena rangsangan lain seperti status ataupun uang atau bisa juga dikatakan seorang melakukan hobbynya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah manakala elemen elemen diluar pekerjaan yang melekat di pekerjaan tersebut menjadi faktor utama yang membuat seorang termotivasi seperti status ataupun kompensasi.
Banyak teori motivasi
yang dikemukakan oleh para ahli yang dimaksudkan untuk memberikan uraian yang
menuju pada apa sebenarnya manusia dan manusia akan dapat menjadi seperti apa.
Landy dan Becker membuat pengelompokan pendekatan teori motivasi ini menjadi 5
kategori yaitu teori kebutuhan,teori penguatan,teori keadilan,teori
harapan,teori penetapan sasaran.
A. TEORI MOTIVASI ABRAHAM MASLOW (1943-1970)
Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting.
• Kebutuhan fisiologis
(rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
• Kebutuhan rasa aman
(merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
• Kebutuhan akan rasa
cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
• Kebutuhan akan
penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta
pengakuan)
• Kebutuhan
aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi;
kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan
aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya)
Bila makanan dan rasa aman sulit diperoleh, pemenuhan kebutuhan tersebut akan mendominasi tindakan seseorang dan motif-motif yang lebih tinggi akan menjadi kurang signifikan. Orang hanya akan mempunyai waktu dan energi untuk menekuni minat estetika dan intelektual, jika kebutuhan dasarnya sudah dapat dipenuhi dengan mudah. Karya seni dan karya ilmiah tidak akan tumbuh subur dalam masyarakat yang anggotanya masih harus bersusah payah mencari makan, perlindungan, dan rasa aman.
B. TEORI MOTIVASI
HERZBERG (1966)
Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktorhigiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan, kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik), sedangkan faktor motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb (faktor intrinsik).
C. TEORI MOTIVASI
DOUGLAS McGREGOR
Mengemukakan dua pandangan manusia yaitu teori X (negative) dan teori y (positif),
Menurut teori x empat pengandaian yag dipegang manajer
a. karyawan
secara inheren tertanam dalam dirinya tidak menyukai kerja
b. karyawan
tidak menyukai kerja mereka harus diawasi atau diancam dengan hukuman untuk
mencapai tujuan.
c. Karyawan
akan menghindari tanggung jawab.
d. Kebanyakan
karyawan menaruh keamanan diatas semua factor yang dikaitkan dengan kerja.
Kontras dengan
pandangan negative ini mengenai kodrat manusia ada empat teori Y :
a. karyawan
dapat memandang kerjasama dengan sewajarnya seperti istirahat dan bermain.
b. Orang
akan menjalankan pengarahan diri dan pengawasan diri jika mereka komit pada
sasaran.
c. Rata
rata orang akan menerima tanggung jawab.
d. Kemampuan
untuk mengambil keputusan inovatif.
D. TEORI MOTIVASI
VROOM (1964)
Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan. Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga komponen, yaitu:
• Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas
• Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu).
• Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif, netral, atau negatif.Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi harapanMotivasi rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan
E. Achievement TheoryTeori achievement Mc Clelland (1961),
yang dikemukakan oleh Mc Clelland (1961), menyatakan bahwa ada tiga hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, yaitu:
• Need for achievement (kebutuhan akan prestasi)
• Need for afiliation (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama dengan soscialneed-nya Maslow)
• Need for Power (dorongan untuk mengatur)
F. Clayton Alderfer
ERG
Clayton Alderfer mengetengahkan teori motivasi ERG yang didasarkan pada kebutuhan manusia akan keberadaan (exsistence), hubungan (relatedness), dan pertumbuhan (growth). Teori ini sedikit berbeda dengan teori maslow. Disini Alfeder mngemukakan bahwa jika kebutuhan yang lebih tinggi tidak atau belum dapat dipenuhi maka manusia akan kembali pada gerakk yang fleksibel dari pemenuhan kebutuhan dari waktu kewaktu dan dari situasi ke situasi.
Referensi:
[1] mesiono, manajemen organisasi
[3] web.unair.ac.id/admin/file/f_20025_4k.docx
[4]
http://id.wikipedia.org/wiki/Motivasi
[5] latansablog.wordpress.com/2011/11/24/pengertian-jenis-dan-sumber-konflik/















0 komentar :
Posting Komentar