Tugas Softskill ke-4 (Organisasi Dan Metode)
MOTIVASI
Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan
ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam
definisi ini diantaranya adalah intensitas, arah, dan ketekunan
Pengertian motivasi dan definisi dalam organisasi berkisar pada
dimensi subyektif, ada di dalam diri setiap individu, yang mendorong lahirnya
aktivitas. Motivasi merupakan pendorong utama perilaku seseorang dalam suatu
pekerjaan. Seorang pekerja menjadi rajin atau tidak rajin, kreatif atau tidak
kreatif, dapat ditelusuri lewat motivasi yang ada di dalam dirinya. Perhatian
serius pada masalah motivasi membuat pimpinan di suatu organisasi dalam
memanfaatkan motivasi di dalam diri tiap pekerja untuk mencapai tujuan
perusahaan.
Definisi Motivasi
Menurut Ellen A. Benowitz, motivasi adalah “kekuatan yang
menyebabkan individu bertindak dengan cara tertentu. Orang punya motivasi
tinggi akan lebih giat bekerja, sementara yang rendah akan sebaliknya.”[1] John
R. Schemerhorn, et.al. mendefinisikan motivasi sebagai “mengacu pada pendorong
di dalam diri individu yang berpengaruh atas tingkat, arah, dan gigihnya upaya
seseorang dalam pekerjaannya.”[2] Laurie J. Mullins mendefinisikan motivasi
sebagai “arahan dan kegigihan tindakan.”[3]
Motivasi menurut
Martin Covington adalah alasan yang
“... deals with the why of behavior: Why for example, do individuals choose to
work on certain tasks and not on others: why do they exhibit more or less
energy in the pursuit of these tasks and why do some people persist until the
task is completed, whereas others give up before they really starts, or in some
cases pursue more elegant solutions long after perfectly sensible answers have
presented theselves.”[4]
Definisi lain mengenai
motivasi diajukan oleh Jere E. Brophy. Menurut Brophy, motivasi adalah “
... a theoretical
construct used to explain the initiation, direction, intensity, persistence,
and quality of behavior, especially goal-directed behavior. Motives are
hypotetical constructs used to explain why people are doing what they are
doing.”[5]
Selanjutnya, Jere E.
Brophy mengutarakan bahwa “... motivation is subjective and focused on the
reasons behind our choices and actions.”[6]
Bagi Brophy, motivasi
perlu dibedakan dengan tujuan maupun strategi. Ia memberi contoh, respon
seseorang atas lapar (motivasi) adalah dengan pergi ke restoran (strategi)
untuk mendapatkan makanan (tujuan). Hal yang senada dengan Brophy juga diujar
oleh Donna Walker Tileston bahwa
“... motivation
relates to the drive to do something. Motives are usually construed as
relatively general needs or desires that energize people to initiate purposeful
action sequences.[7]
Sehubungan dengan
dunia kerja, terdapat 2 jenis motivasi yaitu : (1) Motivasi Intrinsik dan (2)
Motivasi Ekstrinsik. Motivasi intrinsik berhubungan dengan reward nyata seperti
gaji, keamanan posisi, promosi, kontrak, lingkungan kerja, dan kondisi kerja.
Sebagian besar dari reward nyata ini ada di level organisasi dan berada di luar
kewenangan manajer selaku individu.
Motivasi intrinsik berhubungan dengan reward yang bersifat
psikologis seperti kesempatan menggunakan kemampuan, rasa tertantang untuk
berprestasi, menerima pujian, pengakuan positif, dan diperlakukan secara baik.
Reward psikologis ini dapat diupayakan oleh manajer selaku individu karena
berada di dalam kemampuannya.
1.Arti pengembangan Organisasi
Lebih dikenal dengan organization development (OD)
.Pengertian pokok OD adalah perubahan yang terencana (planned change).Perubahan
, dalam bentuk pembaruan organisasi dan modernisasi, terus menerus terjadi dan
mempunya pengaruh yang sangat dominan dalam masyarakat kini. Organisasi beserta
warganya, yang membentuk masyakat modern , mau tidak mau harus beradaptasi
terhadap arus perubahan ini. Perubahan perubahan yang terjadi pada dasarnya
dapat dikelompokkan dalam empat katagori , yaitu perkembangan teknologi,
perkembangan produk, ledakan ilmu pengetahuan dan jasa yang mengakibatkan makin
singkatnya daur hidup produk,serta perubahan sosial yang mempengaruhi perilaku,
gaya hidup, nila nila dan harapan tiap orang.
A.Sejarah Perkembangan Organisasi
Sejarah Pengembangan Organisasi sangat erat hubungannya
dengan teori organisasi. Teori Organisasi meliputi teori organisasi klasik,
teori organisasi neoklasik, dan teori organisasi modern.
1. Teori Organisasi
Klasik
Teori klasik (classical theory) kadang-kadang disebut juga
teori tradisional yang berisi konsep-konsep tentang organisasi mulai tahun
1800( abad 18). Dalam teori ini, organisasi secar umum digambarkan oleh para
teoritisi klasik sebagai organisasi yang sangat tersentralisasi dan
tugas-tugasnya terspesialisasi, serta memberikan petunjuk mekanistik struktural
yang kaku dan tidak mengandung kreatifitas. Dalam teori ini organisasi
didefinisikan sebagai struktur hubungan, kekuasaan-kekuasaan, tujuan-tujuan,
peranan peranan, kegiatan-kegiatan, komunikasi dan faktor-faktor lain bila
orang-orang bekerja sama.
2. Teori Organisasi Neoklasik
Teori Neoklasik secara sederhana dikenal sebagai aliran
hubungan manusiawi (The Human Relation Movement). Teori neoklasik dikembangkan
atas dasar teori klasik. Dasar teori ini adalah menekankan pentingnya aspek
psikologis dan sosial karyawan sebagai individu maupun sebagai bagian kelompok
kerjanya. Perkembangan teori neoklasik dimulai dengan inspirasi
percobaan-percobaan yang dilakukan di Howthorne dan dari tulisan Huga
Munsterberg. Percobaan-percobaan ini dilakukan dari tahun 1924 sampai 1932 yang
menandai permulaan perkembangan teori hubungan manusiawi dan merupakan
kristalisasi teori neoklasik. Pada akhirnya percobaan Howthorne menunjukkan
bagaimana kegiatan kelompok-kelompok kerja kohesif sangat berpengaruh pada
operasi organisasi.
3. Teori Organisasi
Modern
Teori modern biasanya disebut juga sebagai analisa sistem
pada organisasi. Teori modern melihat bahwa semua unsur organisasi sebagai satu
kesatuan dan saling ketergantungan, yang di dalamnya mengemukakan bahwa
organisasi bukanlah suatu sistem tertutup yang berkaitan dengan lingkungan yang
stabil, akan tetapi organisasi merupakan sistem terbuka. Teori modern
dikembangkan tahun 1950, dalam banyak hal yang mendalam teori modern dengan
klasik berbeda, perbedaan tersebut diantaranya:
Teori Klasik memusatkan pandangannya pada analisa dan deskripsi
organisasi, membicarakan konsep koordinasi, scalar dan vertikal. Teori Modern
menekankan pada perpaduan dan perancangan menjadikan pemenuhan suatu kebutuhan
yang menyeluruh, lebih dinamis dan lebih banyak variabel yang dipertimbangkan.
Teori Modern menunjukkan tiga kegiatan proses hubungan universal yang selalu
muncul pada sistem manusia dalam perilakunya berorganisasi, yaitu:
· Komunikasi
· Konsep
keseimbangan dan
· Proses
pengambilan keputusan.
Adapun tujuan Perkembangan Organisasi sebagai berikut:
1. Menciptakan keharmonisan hubungan kejra antara pimpinan
dengan staf anggota
organisasi.
2. Menciptakan kemampuan memecahkan persoalan organisasi
secara lebih terbuka
3. Menciptakan keterbukaan dalam berkomunikasi.
4. Merupakan semangat kerja para anggota organisasi dan
kemampuan mengendalikan diri.
B. Karakteristik Pengembangan Organisasi
Karakteristik organisasi adalah perilaku dan tingkah laku
suatu badan/institusi terhadap kondisi yang ada diluar institusi itu maupun
didalam institusi itu sendiri, artinya dalam dunia bisnisnya selalu fokus
kepada pelanggannya yang bukan hanya dari luar perusahaan itu tapi juga
orang-orang di dalam perusahaan yang merupakan aset perusahaan itu sendiri.
(Maksudnya Masih jarang sebuah institusi itu menganggap karyawannya berpotensi
untuk jadi aset dan akhirnya kurang mendapat perhatian dari perusahan itu
sendiri), jadi semua mengarah kepada mutu yg ditentukan.
Kerakteristik Organisasi yang efektif adalah :
· Program Training dan Pengambangan terbuka seluas-luasnya
· Program kompensasi terlaksana dengan baik
· Tingkat perputaran SDM rendah
· Top manajemen
mempunyai komitmen dan mendukung terhadap perkembangan SDM
· Semua Team turut
berpartisipasi dalam membuat kebijakan organisasi
C.Organisasi Masa Depan
Dalam abad duapuluh satu ini setiap organisasi akan dan
harus menghadapi persaingan yang semakin kompleks dan menantang, baik
persaingan aktual maupun potensial, yang aktual harus dihadapi dan yang
potensial perlu diantisipasi. Dalam menghadapi semua itu terdapat dua
pendekatan yang mungkin diambil oleh suatu organisasi yaitu : 1) Pendekatan
yang berbasis sumberdaya tangible, dan 2) Pendekatan yang berbasis Sumberdaya
manusia (intangible).
Organisasi yang menganggap bahwa persaingan hanya bersifat
fisik pendekatan pertama yang akan diambil, membina universitas hanya
berputar-putar dalam masalah yang nyata, karena memang inilah yang paling bisa
dilihat dan ditunjukan, namun bagi yang melihat persaingan ke depan lebih
mengarah pada persaingan pengetahuan, tanpa mengabaikan hal fisik, maka
pengembangan SDM akan menjadi prioritas, dan ini perlu komitmen yang kuat
karena time-response dari cara ini lama dan susah dilihat apalagi ditunjukan,
namun pendekatan ini sebenarnya akan sangat dirasakan dalam menyehatkan dan
mengembangkan suatu Organisasi menjadi organisasi pembelajar (learning
organization)
2. Pengertian Kepemimpinan
Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) Pengertian
Kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau
bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing
orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok. Menurut Young
(dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang
didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain
untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan
memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
A.Tipe kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan
atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok,
memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh
kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.
Berikut ini ada 5 Tipe Kepemimpinan, yang biasa di gunakan
dalam suatu organisasi, antara lain yaitu :
Tipe Demokratis
Dalam proses penggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari
pendapat bahwa manusia adalah makhluk termulia di dunia
Selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi
dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari para bawahannya
Senang menerima saran, pendapat bahkan kritik dari
bawahannya
Tipe pemimpin Otokratis
Menganggap organisasi sebagai milik pribadi
Mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
Menganggap bawahan sebagai alat semata- mata
Tipe Kharismatis
Hingga kini para pakar belum berhasil menemukan sebab- sebab
mengapa seorang pemimpin memiliki kharisma, yang diketahui adalah bahwa
pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada
umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar. Karena kurangnya
pengetahuan tentang sebab musabab seorang menjadi pemimpin yang kharismatis,
maka sering dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan
gaib (supernatural powers).
Tipe Militeristis
Sering mempergunakan sistem perintah dalam menggerakkan
bawahannya
Senang bergantung pada pangkat dan jabatan dalam
menggerakkan bawahannya
Senang kepada formalitas yang berlebih- lebihanMenuntut
disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan
Tipe Paternalistis
Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa
Bersikap terlalu melindungi
Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk
mengambil keputusan dan inisiatif
B. Teori-teori dalam Kepemimpinan
a) Teori Sifat
Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan
seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang
dimiliki pemimpin itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa
untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan
pribadi pemimpin. Dan kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang
dengan berbagai sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya.
Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Sondang
P Siagian (1994:75-76) adalah: – pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang
kuat, rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas,
orientasi masa depan; – sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang
tinggi, naluri relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang
antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integratif; –
kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala prioritas,
membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik, dan berkomunikasi
secara efektif.
b) Teori Perilaku
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan
perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok
ke arah pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi
perilaku:
Ø Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan
bawahan memiliki ciri ramah tamah,mau berkonsultasi, mendukung, membela,
mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta
memperlakukannya setingkat dirinya. Di samping itu terdapat pula kecenderungan
perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas organisasi.
Ø Berorientasi kepada bawahan dan produksi perilaku pemimpin
yang berorientasi kepada bawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan
atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan kebutuhan bawahan
serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan. Sedangkan
perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan
penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan dan
penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan.
c) Teori Situasional
Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional
ditentukan oleh ciri kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan
dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi
dengan memperhitungkan faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang
berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian
(1994:129) adalah
* Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas;
* Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan;
* Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan;
* Norma yang dianut kelompok;
* Rentang kendali;
* Ancaman dari luar organisasi;
* Tingkat stress;
* Iklim yang terdapat dalam organisasi.
Daftar pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Motivasi
https://nurlailatulrmd.wordpress.com/2013/05/17/arti-pengembangan-organisasi/
https://uharsputra.wordpress.com/artikel-2/organisasi-masa-depan/
http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepemimpinan-menurut-para-ahli/
http://www.cicikresticonsultant.com/tipe-kepemimpinan/
http://ekoif.weebly.com/teori-kepemimpinan.html