CLOCK

Pages

Kamis, 02 Juni 2016

10 WNI disandra kelompok bersenjata Abu Sayyaf

10 WNI disandra kelompok bersenjata Abu Sayyaf



10 Warga Negara Indonesia (WNI) Anak Buah Kapal (ABK) ditangkap diperairan laut Filiphina, Mentri Luar Negri RI, Ibu Retno Lestari pun membenarkan perihal ini, di ketahui bahwa kelompok yang menyandra 10 WNI ini merupakan kelompok bersenjata Abu Sayyaf, beriktut kronologi penyandraan:
23 Maret 2016
Kapten Peter via telepon mengabarkan kepada keluarga telah memasuki perairan Malaysia. Distatus Facebook ia menulis sinyal telah roaming.
24-25 Maret 2016
Perkiraan Lokasi pembajakan, sehari perjalanan ke tujuan, Manila
25 Maret 2016
pada tanggal 25 Maret 2016 tepatnya pukul 15.20  Kapal Brahma yang mengangkut Batu Bara di bajak dan para Awak Badan  Kapal pun disandera oleh kelompok Abu Sayyaf, berikut pemaparan chief officer Julian Brahma, yang di kutip dari
http://nasional.kompas.com/read/2016/05/02/16455111/Ini.Kronologi.Penyanderaan.10.ABK.oleh.Kelompok.Abu.Sayyaf
ketika itu kelompok Abu Sayyaf berjumlah delapan orang dengan mengendarai speed boat  saat mereka datang para anggota kapal mengira bahwa mereka adalah petugas biasa karna mereka (Abu Sayyaf) menggunakan seragam polisi Nasional Filiphina, namun saat mereka menaiki kapal langsung mengeluarkan senjata lengkap mulai dari M14, M16 double body  dan menyandera seluruh ABK yang ada, dalam penyanderaan para ABK ada yang di ikat dan di borgol, namun setelah para ABK melakukan kesepakatan untuk mengikuti semua kemauan serta tunduk tidak melawan kepada kelompok Abu Sayyaf.
Komunikasi pun berjalan lancar antara dua belah pihak itu. Kapal pun diarahkan ke arah timur. Saat itu masih berada di wilayah Malaysia, tetapi kapal diarahkan ke Tawi-Tawi, Filipina.

26 Maret 2016
perahu berhenti di sebuah pulau. Setelah membaca situasi, kelompok Abu Sayyaf memutuskan untuk melanjutkan pelayaran ke arah timur.


29 Maret
Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Badrodin Haiti dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo untuk melacak jejak para penyandera dan ke-10 WNI tersebut. TNI juga telah menyiapkan pasukan terbaik mereka untuk terjun ke lokasi setiap saat.
Dari sumber merdeka.com, Selasa (29/3), ada tiga pasukan elite yang diterjunkan untuk membebaskan para sandera. Mereka merupakan pasukan terbaik dengan anggota yang benar-benar memiliki kemampuan khusus dan terbaik dari yang terbaik.

31 Maret
Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) meyakini operasi pembebasan sandera asal Indonesia yang kini ditawan militan Abu Sayyaf, masih bisa mereka tangani sendiri. Dengan begitu, tawaran bantuan militer Indonesia yang sekarang sudah menyiagakan armada tempur di Tarakan serta Bitung, ditolak secara halus, seperti dilansir inquirer.net.
Militer Filipina memiliki prinsip tersendiri, sehingga sulit mengizinkan pasukan asing terlibat dalam pembebasan sandera itu. “Berdasarkan konstitusi, negara kami tidak mengizinkan adanya pasukan asing tanpa perjanjian khusus,” kata juru bicara AFP, Brigadir Jenderal Restituto Padilla saat dihubungi wartawan kemarin.
8 April
Umar Patek siap membantu pemerintah untuk membebaskan WNI yang disandera Abu Sayyaf. Terpidana kasus terorisme 20 tahun bui itu pun mengaku tanpa pamrih apapun, asalkan persyaratan secara teknis dipenuhi.
Umar Patek alias Hisyam bin Alizein merupakan asisten koordinator lapangan dalam aksi terorisme Bom Bali Pertama pada tahun 2002. Insiden itu menewaskan 202 orang. Umar Patek disebut-sebut pernah membekali para petinggi militan Abu Sayyaf saat ini dengan pelatihan menggunakan senjata api serta merakit bom.
10 April
18 Prajurit Filipina tewas dalam operasi pembebasan sandera di Pulau Jolo, Basilan. Mereka tiba-tiba disergap saat dalam perjalanan menuju medan pertempuran. Meski begitu, lima militan berhasil ditembak mati.
12 April
Terpukul mundurnya tentara Filipina dalam operasi awal penyelamatan sandera dari tangan Abu Sayyaf akhir pekan lalu tidak melemahkan moral prajurit. Militer Filipina justru kembali menggelar operasi penyergapan lanjutan selama 10 jam pada hari berikutnya sepanjang Minggu (10/4) malam hingga Senin (11/4) dini hari, di lokasi yang sama, menurut keterangan juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina (AFP). Berkat operasi lanjutan itu, dipastikan 13 militan tewas.
15 April
Pukul 18.31 telah kapal berbendera Indonesia, yaitu kapal tunda TB Henry dan Kapal Tongkang Cristi di perairan perbatasan Malaysia-Filipina kembali dibajak. Kapal tersebut dalam perjalanan kembali dari Cebu, Filipina menuju Tarakan. Kapal membawa 10 orang ABK WNI.
Dalam pembajakan kali ini, seorang ABK tertembak. Sementara itu, lima orang berhasil selamat, sedangkan empat lainnya diculik oleh kelompok tersebut.
26 April
Militan Abu Sayyaf menepati ancaman yang mereka sebar sejak pekan lalu untuk mulai mengeksekusi tiga sandera asing dan satu tawanan asli Filipina. Korban pertama adalah John Ridsdel (68) asal Kanada. Tentara Filipina menemukan kepala pria ini di salah satu pulau kosong kawasan Jolo. Penemuan itu terjadi lima jam setelah tenggat pembayaran tebusan lewat.
29 April
Militer Filipina mengerahkan pesawat tempur membombardir titik-titik diduga markas militan Abu Sayyaf di pedalaman Pulau Jolo, Provinsi Sulu. Salah satu sandera asal Malaysia, Wong Teck Chi, menghubungi orang tuanya lewat sambungan telepon tiga hari lalu. Dia mengaku dipaksa lari berpindah-pindah tempat nyaris setiap beberapa jam sekali oleh para penculiknya.
Militer Filipina mulai menggempur Pulau Jolo melalui udara sejak dua pekan terakhir. “Kami khawatir, anak saya bercerita bahwa sikap para penculik sekarang semakin beringas setelah serangan udara kian intensif,” kata Wong Chie Ming, orang tua Tek Chi, yang tinggal di Kota Sibu, Serawak, Malaysia.
29 April
Brigadir Jenderal Alan Arrojado yang selama delapan bulan terakhir memimpin Brigade 501 Provinsi Sulu dicopot. Dia digantikan oleh Kolonel Jose Faustino selepas satu sandera asal Kanada dipenggal oleh militan Abu Sayyaf di Pulau Jolo.
Philippine Star melaporkan, Kamis (29/4), Arrojado kabarnya bersitegang melawan atasannya, Mayor Jenderal Gerrardo Barrientos. Mereka adu pendapat soal strategi menekan militan, terkait operasi pembebasan para sandera.
1 Mei
10 ABK Warga Negara Indonesia telah dibebaskan oleh kelompok militan Abu Sayyaf di daerah Sulu pada Minggu siang hari ini. Polisi wilayah Provinsi Sulu, Wilfredo Cayat mengonfirmasi perihal pembebasan ini.
“Kita infokan ada seorang tidak diketahui menaruh 10 WNI di depan rumah dari Gubernur Sulu (Abdusakur) Toto Tan (II),” kata Cayat, seperti dikutip dari laman the Star, Minggu (5/1).Presiden Jokowi memastikan 10 WNI tengah malam ini tiba di Lanud Halim Perdanakusuma. Namun sampai saat ini masih ada 4 WNI yang disandera.
2).Strategi Yang Diambil Oleh Negara Dalam membebaskan warganya yang disandra  oleh Abu Sayyaf
Melalui Video milik Abu Sayyaf, mereka meminta tebusan kepada Pemerintahan Indonesia bahkan dalam penyanderaan nya Kelompok militan Abu Sayyaf mengancam akan membunuh para sandera jika uang tebusan yang dituntut tidak segera dibayarkan. kelompok militan itu meminta agar uang tebusan sebesar 300 juta peso atau Rp 84 miliar untuk menyelamatkan nyawa para sandera.

1.      Politik
Menghadapi permasalah ini pemerintahan Indonesia enggan untuk membayar tebusan yang di minta oleh Abu Sayyaf, namun pemerintah Indonesia masih terus berupaya membebaskan para sandera. Pemerintah masih terus menjalin komunikasi dengan pihak Filipina. berharap penyanderaan ini bisa segera selesai dan 10 WNI bisa kembali dengan selamat. dengan beberapa langkah yang harus di ambil :

·         Diplomasi
sejauh ini pemerintah terus meningkatkan diplomasi dengan filipina dan negera negara lain guna membebaskan sandra Indonesia, sebagaimana berikut pemaran presiden Republik Indonesia
“Terus dilakukan komunikasi, diplomasi antar negara dan komunikasi dengan yang menyandera. Tapi kita tidak bisa membuka apa yang kita lakukan karena ini masih dalam proses-proses semuanya,” kata Jokowi usai membuka Muktamar VIII PPP di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta, Jumat (8/4/2016).

selain itu Sekretaris Kabinet Pramono Anung, juga menjelaskan bahwa hari ini di mana bertepatan dengan akhir batas waktu untuk membayaran tebusan yang diminta, Indonesia masih berdiplomasi dengan pemerintahan filipina.


sejauh ini Pemerintah terus memantau keadaan dan lokasi sandra Indonesia dengan bertukar informasi dari berbagai pihak, termasuk dalam melakukan langkah pun Indonesia terus mengedepankan diplomasi dan komunikasi sehingga nasihat nasihat stretegi pembebasan sandra pun dilakukan bukan hanya sepihak oleh Indonesia Ataupun Filiphina namun terbinanya sinergi dan asistensi inilah wujud diplomasi yang Indonesia ambil.

2. Koordinasi Pemerintah, Pihak Kepolisisan dan TNI

Disaat Pihak Kementrian membenarkan tersanderanya 10 warga Indonesia oleh kelompok militan Abu Sayyaf, Pihak pemerintah segera bertindak sigap dan cermat, beberapa mentri pun langsung berkoordinasi dengan pihak kepolisaian dan TNI, guna melangsungkan proses pembebesan WNI yang tersandra itu.

TNI pun mulai melakukan beberapa langkah persiapan, sebagai mana di lansir oleh stasiun televisi dimana TNI terlihat menurunkan sejumlah peralatan pendukung, Sementara tiga kapal perang juga terlihat bersiap di perairan sekitar Tarakan.(kompas, jum at 1/4/2016).

Bahkan dalam tautan lain, manakala Presiden Jokowi bergeming, TNI  mengirim pasukan superelite guna bersiap membebaskan sandera yang di tahan lanun Abu Sayyaf di kepulauan Mindanau, Unit ini terdiri dari satuan Gultor, tim elite kopasus,dan satuan super elite marinir, Taifib.

Namun Pihak Pemerintahan lebih mengedepankan diplomasi yang di bawahi oleh kementrian Luar Negri RI serta Operasi Intelijen yang dilakukan.

3. OPERASI INTELEGENT
Oprasi Intelegent yang di galangkan oleh TNI dan pemerintahan, bukanlah pengiriman pasukan ke daerah tempat penyanderaan, karna dalam hal ini pemerintah telah mencanangkan dan mengedepankan diplomasi dengan negara lain khususnya Filiphina, namun Indonesia memanfaatkan informasi intelejenn dari para tahanan eks teroris di Indonesia yang seperti Hambali di AS yang kenal dekat dengan kelompok Abu Sayyaf, sehingga memudahkan pemerintah meneukan jalan keluar membebaskan warga negara nya itu. selain itu Indonesia juga melakukan upaya ‘komunikasi intelejen’ terbatas dengan countra-intelejen dan kalangan pemimpin MILF dan MNLF dengan tujuan melunakkan secara diplomatic kelompok Abu Sayyaf.

Penangkapan dan penculikan terhadap WNI ini menjadi preseden buruk karena kelompok Abu Sayyaf mendapatkan signal kekuatan TNI-Polri dalam memerangi ISIS di Indonesia seperti kelompok Poso dan Santoso yang sangat erat terkait dengan para teroris dan pemberontak di Filipina Selatan. Memahami hal tersebut, Presiden Jokowi mengambil langkah yang tepat dan hati-hati dan tidak akan terjebak dalam strategi pembebasan konyol dan bodoh.
3. Pembebasan WNI yang di sandra oleh kelompok militan Abu Sayyaf.
tepatnya pada tanggal ........ semua wni telah resmi di pulangkan ke pihak keluarga masing-masing, dalam dalam hal ini masih banyak simpang siur kabar mengenai latar belakang pembebasan sandra Abu sayyaf tersebut, karna sempat di beritakan adanya tebusan yang di keluarkan oleh sebuah pihak guna membebaskan sandra WNI tersebut, namun hal ini juga dibantah oleh beberapa pihak lain, berikut kulasan nya,
setelah terdengarnya kabar penyandraan ABK yang berkewarganegaraan Indonesia, perusahaan dengan sigap mengutarakan siap memenuhi uang tebusan 50 juta peso atau sekitar Rp 14,3 miliar kepada kelompok Abu Sayyaf.
sebagaimana di ungkapkan oleh Bapak Luhut di kantornya"Perusahaannya sudah siap bayar," ujar Luhut di kantornya,  (Senin 4/4/2016).
namun belum ada penjelasan lebih lanjut kapan dan dimana uang itu di serahkan ke pada pihak Abu Sayyaf.
Negosiasi dalam pembebasan sandra.
akhirnya dengan resmi di beritakan bahwa pembebasan sandra ABK WNI tersebut full oleh negosiasi,sebagaimana saat Salah satu negosiator yang ikut dalam pemulangan 10 warga negara Indonesia yang disandera oleh perompak di Filipina pimpinan Abbu Sayyaf menganalogikan peristiwa tersebut sebagai "ulah nakal anggota keluarga.", berikut pernyataan lengakp nya:
"Intinya, ini ada anak nakal dalam satu keluarga. Nah, bagaimana kita komunikasi dengan itu," kata negosiator, Eddy Mulya, sebagai Minister Counsellor, koordinator fungsi politik dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Manila, Filipina, saat ditemui di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (1/5/2016) malam. (kompas.com)
dengan ini juga memastikan bahwa pembebasan WNI yang di sandra oleh Abu Sayyaf resmi adanya negosisi, serta kerja sama yang baik antara Indonesia dan Filiphina.
4. pendapat
terjadinya penyanderaan terhadap ABK berkewarganegaraan Indonesia mengindikasikan bahwa kurang nya kontrol yang baik di kawasan laut masing- masing negara, dalam hal ini kita tidak dapat menyalahkan satu pihak, karna terjadinya sesuatu pastilah adanya penyebab, dan antara sebab satu dan sebab yang lain masih saling berkaitan, dimana aparat penegak hukum dan keamanan khususnya di daerah kelautan masih belum maksimal, sehingga penyanderaan ini dapat terjadi, serta sinergi keamanan laut antar negara pun berjalan dengan baik.
dalam hal ini juga menjelaskan bahwa koordinasi sesama angkatan laut antar negara belum terjalin dengan baik, dimana seharusnya koordinasi harus lah berjalan dengan baik, mengingat rute laut yang di gunakan merupakan rute pengiriman yang biasa digunakan guna pengiriman barang antar negara, serta cakupan rute laut yang luas  meliputi lebih dari satu negara haruslah terbina koordinasi yang baik, seperti patroli bersama patut untuk diadakan guna menjamin keamanan pelaut.
di sisi lain penyanderaan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata merupakan perbuatan terorisme yang inilah yang harus selalu dipersiapkan oleh negara khususnya pihak keamanan negara yang mana bertugas untuk menjamin keamanan warga negaranya, baik itu keamanan maupun di udara dan laut sekallipun.
5. pengamatan
Langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah dalam menangani kasus ini sangat lah perlu mendapat apresiasi, dimana langkah langkah tersebut diambil dengan sangat hati hati dan cermat, apalagi manakala negara sedikitpun tidak mendapat izin dari negara filiphina untuk mengirim pasukan nya ke daerah yang menjadi tempat penyanderaan, namun langkah langkah diplomasi yang dilakukan dengan sangat baik serta terjalin hubungan kerja sama yang yang di canangkan oleh presiden Indonesia dan Filipina, berbuah manis, tak luput dari itu operasi intelijen yang dapat di laksanakan dengan baik walau tanpa harus mengirim pasukan terbukti jitu, serta dalam hal ini banyak pihak yang pasti ikut membantu menyelesaikan masalah ini.
kepala dingin Presiden dan Pemerintah serta jajaran nya lah salah satu kunci pembelajaran yang patut kita garis bawahi, bahwa semua permasalah, kekerasan sekalipun, menyelesai kan nya tidak harus di selesaikan dengan kekerasan pula, dapat di bayang kan bila pemerintahan kita mengambil langkah yang salah, mungkin suasana sekarang pun bisa jadi berbeda.
referensi :
·         tempo.co
·         kompas.com
·         merdeka.com






0 komentar :

Posting Komentar