Dalam hidup ini sering terdengar argument bahwa tujuan
puncak seorang adalah mencapai kesuksesan, namun benarkah arugumen ini jika
hanya kita artikan harfiah saja, secara harfiah sukses dapat diartikan
pencapaian puncak ketenaran, puncak kekayaan, puncak jabatan.
Jika
kita menganggap ketenaran adalah puncak kesuksesan, bukankah banyak orang yang
sangat tenar hidup nya, namun rona kebahagian tak pernah terpancar dari raut
mukanya, bahkan hidupnya penuh kesengsaraan.
Kalau sukses adalah puncak
kekayaan, betapa banyak orang kaya yang selalu mengeluh bahkan oleh kekayaan
nya sendiri, dan tak jarang kita temukan orang orang yang sangat kaya harus
hidup lebih tersiksa dari orang miskin sekali pun dikarenakan hutan yang
melilitnya.
Jika jabatan adalah puncak kesuksesan
bukannkah, banyak orang menduduki puncak jabatan nya namun ia tergiur dengan
hal-hal lain sehingga ia pun tergelincir dari semua itu.
Di lain sisi pernahkah kita
bayangkan dapat hidup dengan penuh kesederhanaan, setiap apa yang kita butuhkan
dapat terpenuhi, bukan berarti harus bergelimang harta, lalu apa kunci di balik
itu semua, dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya bahagia dulu baru sukses.
Bahagia
dulu Baru Sukses.
Berbeda dengan prinsip yang lain
dimna banyak dinyatakan bahwa harus sukses dahulu baru bahagia, analogikanya
seperti ini, klo mau sukses dlu baru bahagia kan berarti dia memeksakan
kehendak, nah kalau kenyataan yang harus dihadapi ia harus hidup sederhana,
apakah iya dia harus bersedih karna belom sukses, apalagi kalu pada puncaknya
ia jatuh miskin, inilah yang banyak terjadi di era ini, mereka seringkali
beranggapan sukses harta, martabat, jabatan adalah segalanya sehingga ia
mencapai apa yang dia inginkan namun ia tidak bahagia.
Bahagia bagaikan sebuah orbit
dalam perputaran tata surya, bahagia adalah mataharinya yang akan dikelilingi
oleh planet-planet dalam setiap porosnya, kita dalam segala hal perputaran haruslah bahagia. Apakah hal hal yang kita
lakukan menarik, sulit, mudah, menakjubkan, mengerikan haruslah didasari
kebahagiaan agar semua terselesaikan dengan mudah, namun ada sebuah pertanyaan,
dapatkah kita bahagia dalam kesukaran, kita ambil sebuah contoh disaat seorang
A tersudut oleh suatu masalah, jalan yang harus di tempuh dalam penyelesaian
nya pun beragam ia dapat memilih jalan C atau D bahkan masih banyak jalan
lainnya, namun sekarang kita umpamakan hanya ada dua jalan jalan C yang artinya
menyelesaikan dengan bahagia dan sebaliknya adalah jalan D. saat permasalahan
diselesaikan dengan bahagia dapat kita bayangkan orang tersebut menyelesaikan
masalahnya satu persatu dengan hati yang tenang dan penuh tanggung jawab bahwa
itu wajib kita selesaikan maka jalan senjutnya akan terlihat bahwa masalah nya
akan selesai bahkan tanpa masalah baru, coba kita sebalik nya kita selesaikan
dengan cara D, saat ia mendapat mesalah hal pertama yang ia pikir adalah
mengapa masalah itu datang kepadanya, atau lebih sering nya dia malah lari dari
masalah itu, sehingga masalah yang tadi nya ringan pun menjdai berat, yang
tadinya mudah menjadi rumit, belum lagi dalam penyelesaian masalh tak jarang ia
menguluh bahkan mengkait kan masalah nya dengan orang lain, sehingga tak jarang
ia mengatasi masalah tanpa jalan keluar ataupun dengan masalah baru,
hmmm..memang menarik dan lugas.
Dalam hal ini bahagia tidaklah
sama dengan bernafas yang akan terjadi dengan sendirinya, disadari ataupun
tanpa disadari, di sengaja ataupun tidak di sengaja, namun bahagia butuh
kesadaran, penghayatan, bahkan kesadaran lubuk hati kecil dalam setiap hal yang
di bungkus oleh utas senum kecil dan bahagia itu terdapat dalam pikiran kita.
Bahkan menurut Shawn Achor (Harvard University) dalam bukunya The
Happiness Advantage), dokter yang yang bahagia 19% diagnosisnya lebih akurat,
dan seorang tenaga penjual yang bahagia pun dapat menjual 53% di banding mereka
yang kurang bahagia. Begitu juga banyak hal lain yang mungkin belum kita sadari
bahwa manakala kita melakuka semua itu dengan bahagia hasil yang kita tuai pun
berbanding lurus dengan kebahagiaan tersebut.
0 komentar :
Posting Komentar