CLOCK

Pages

Selasa, 15 Desember 2015

Manakah yang lebih dahulu



Dalam hidup ini sering terdengar argument bahwa tujuan puncak seorang adalah mencapai kesuksesan, namun benarkah arugumen ini jika hanya kita artikan harfiah saja, secara harfiah sukses dapat diartikan pencapaian puncak ketenaran, puncak kekayaan, puncak jabatan.

                Jika kita menganggap ketenaran adalah puncak kesuksesan, bukankah banyak orang yang sangat tenar hidup nya, namun rona kebahagian tak pernah terpancar dari raut mukanya, bahkan hidupnya penuh kesengsaraan.

Kalau sukses adalah puncak kekayaan, betapa banyak orang kaya yang selalu mengeluh bahkan oleh kekayaan nya sendiri, dan tak jarang kita temukan orang orang yang sangat kaya harus hidup lebih tersiksa dari orang miskin sekali pun dikarenakan hutan yang melilitnya.

Jika jabatan adalah puncak kesuksesan bukannkah, banyak orang menduduki puncak jabatan nya namun ia tergiur dengan hal-hal lain sehingga ia pun tergelincir dari semua itu.

Di lain sisi pernahkah kita bayangkan dapat hidup dengan penuh kesederhanaan, setiap apa yang kita butuhkan dapat terpenuhi, bukan berarti harus bergelimang harta, lalu apa kunci di balik itu semua, dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya bahagia dulu baru sukses.

Bahagia dulu Baru Sukses.

Berbeda dengan prinsip yang lain dimna banyak dinyatakan bahwa harus sukses dahulu baru bahagia, analogikanya seperti ini, klo mau sukses dlu baru bahagia kan berarti dia memeksakan kehendak, nah kalau kenyataan yang harus dihadapi ia harus hidup sederhana, apakah iya dia harus bersedih karna belom sukses, apalagi kalu pada puncaknya ia jatuh miskin, inilah yang banyak terjadi di era ini, mereka seringkali beranggapan sukses harta, martabat, jabatan adalah segalanya sehingga ia mencapai apa yang dia inginkan namun ia tidak bahagia.

Bahagia bagaikan sebuah orbit dalam perputaran tata surya, bahagia adalah mataharinya yang akan dikelilingi oleh planet-planet dalam setiap porosnya, kita dalam segala hal perputaran  haruslah bahagia. Apakah hal hal yang kita lakukan menarik, sulit, mudah, menakjubkan, mengerikan haruslah didasari kebahagiaan agar semua terselesaikan dengan mudah, namun ada sebuah pertanyaan, dapatkah kita bahagia dalam kesukaran, kita ambil sebuah contoh disaat seorang A tersudut oleh suatu masalah, jalan yang harus di tempuh dalam penyelesaian nya pun beragam ia dapat memilih jalan C atau D bahkan masih banyak jalan lainnya, namun sekarang kita umpamakan hanya ada dua jalan jalan C yang artinya menyelesaikan dengan bahagia dan sebaliknya adalah jalan D. saat permasalahan diselesaikan dengan bahagia dapat kita bayangkan orang tersebut menyelesaikan masalahnya satu persatu dengan hati yang tenang dan penuh tanggung jawab bahwa itu wajib kita selesaikan maka jalan senjutnya akan terlihat bahwa masalah nya akan selesai bahkan tanpa masalah baru, coba kita sebalik nya kita selesaikan dengan cara D, saat ia mendapat mesalah hal pertama yang ia pikir adalah mengapa masalah itu datang kepadanya, atau lebih sering nya dia malah lari dari masalah itu, sehingga masalah yang tadi nya ringan pun menjdai berat, yang tadinya mudah menjadi rumit, belum lagi dalam penyelesaian masalh tak jarang ia menguluh bahkan mengkait kan masalah nya dengan orang lain, sehingga tak jarang ia mengatasi masalah tanpa jalan keluar ataupun dengan masalah baru, hmmm..memang menarik dan lugas.

Dalam hal ini bahagia tidaklah sama dengan bernafas yang akan terjadi dengan sendirinya, disadari ataupun tanpa disadari, di sengaja ataupun tidak di sengaja, namun bahagia butuh kesadaran, penghayatan, bahkan kesadaran lubuk hati kecil dalam setiap hal yang di bungkus oleh utas senum kecil dan bahagia itu terdapat dalam pikiran kita.

Bahkan menurut Shawn Achor  (Harvard University) dalam bukunya The Happiness Advantage), dokter yang yang bahagia 19% diagnosisnya lebih akurat, dan seorang tenaga penjual yang bahagia pun dapat menjual 53% di banding mereka yang kurang bahagia. Begitu juga banyak hal lain yang mungkin belum kita sadari bahwa manakala kita melakuka semua itu dengan bahagia hasil yang kita tuai pun berbanding lurus dengan kebahagiaan tersebut.

0 komentar :

Posting Komentar