CLOCK

Pages

Sabtu, 25 Juli 2015

Mimpi dalam Mimpi


Mimpi dalam Mimpi
Bangunan pencakar langit yang menjulang tinggi silih berganti menampakkan kekokohannya dari balik  kaca candela kereta, menandakan suasana Ibu kota semakin terasa,  jam pada ponsel ku telah menjunjukkan pukul 01.00 malam, namun angkutan umum dan para porter kereta masih terlihat ramai,”perhatian pada segenap penumpang kereta joko tingkir, kita telah sampai di stasiun manggarai, bagi setiap penumpang yang ingin mengakhiri perjalannnya agar segera bersiap-siap dan memeriksa seluruh barang bawaan anda, segera saja aku bersama ayahku mengambil semua ransel lalu bergegas turun guna mencari angkutan umum menuju tempat tinggal sementara kami.
Angkutan biru ini berhenti tepat di pertigaan jalan, kami pun melanjutkannya dengan berjalan kaki karna jarak yang akan kami tempuh tidak terlalu jauh dari sini, gedung-gedung yang tinggi, lalu lalangnya banyak kendaraan dan banyaknya gelandangan masih menjadi ciri khas kota metropolitan ini, hingga aku pun sampai tepat di sebuah pintu,  tak asing lagi bagiku inilah tempat persinggahan sementara kami ruangan persegi berpetak   sederhana namun nyaman menurutku, seketika itu pun kurebahkan badan yang lelah karna perjalanan berhari-hari, di atas karpet berwarna krem yang cukup tebal. Dengan harapan agar segera kuterlelap dalam mimpi, namun perkiraanku tidak tepat, aku yang sedari tadi merebahkan badan tak kunjung tertidur, sampai ketika waktu telah menujukkan pukul tiga malam namun belum tertidur, sampai ketika ku palingkan badanku ke arah kiri dengan berbantalkan lengan tangan kiri, kurasakan badan yang amat letih dan mata yang mulai lelah walau tak kunjung terlelap. Dan seketika itu suasana di sekelilingku gelap entah apa tak mengerti namun berusaha sekuat tenaga, berusaha sadar dari entah apa yang kurasa ini tapi, namun aku masih belum mampu sadar dalam keadaan yang mencekam kesadarnku.
Sekuat tenaga ku kerahkan tenagaku hingga mampu sadar, namun suasana di sekitarku masih bukan suasana yang normal, kegelapan aneh menyelimuti sekeliling ruangan ini, hawa buruk pun terus berhembus, badanku amat terasa berat entah apa yang menimpa tak sanggup terlihat, usaha-demi usaha kulakukan namun semua itu sirna, aku yang ingin berteriak pun seolah mulut ini terkunci rapat, ingin sekali ku teriakkan meminta bantuan tapi semua itu sia-sia, sampai akhirnya aku mampu memalingkan tubuh menjadi terlentang , tapi entah kenapa kurasa ini masih belum berakhir, dan ternyata benar saat kumulai sadarkan diri entah kenapa kulihat tangan kiri ini seolah menghilang namun aku masih mampu merasakan kalau tangan ini ada, firasatku benar seolah tangan ini telah berpindah pada dimensi lain yang tak dapat ku jangkau, aku pun yang sedari tadi panik tetap tak mampu menggerakan badan khususnya sebelah kiri entah apa yang menyebabkan itu terjadi, saat ingin kutarik tangan kiri ini dengan tangan kananku,tiba-tiba lagi sebagian tangan kanan yang bersentuhan dengan tangan kiri ini ikut abstrak tak terlihat oleh mata walau masih dapat kurasakan bahwa, tangan itu ada dan aku masih merasakannya.
Aku pun yang semakin panik mencoba memikirkan segala cara, ku mulai memikirkan dimanakah aku berada sekarang, kutatapi satu persatu benda yang mengelilingiku tampak sarung, sofa,tas,  dan bermacam-macam lainnya mulai jelas dimataku, untuk kesekian kalinya ku coba untuk berteriak dengan kencang, tapi seolah mulut ini tlah terkunci, tak sedikit pun terucap. Aku yang mulai lelah melawan ini semua, perlahan terbuai dalam lelah, bagai ranting pohon yang sedari lama tlah ingin jatuh mencapai tanah namun masih terikat pada pohon tersebut hingga angin pun membawanya melambai-lambai, perangai badan ini seolah tenggelam dalam mimpi namun seketika sebuah benda melaju kencang hendak menusuk telinga kiri yang aku sendiri tak dapat melihatnya dengan kasat mata, sebuah benda yang hanya aku rasakan lewat naluri melaju kencang,  spontan tangan kiri menahan itu kuat kuat, aku pun semakin bingung karna  benda dan tangan ini sama-sama tak kasat mata untuk kulihat, benda yang mengarah ke telinga ku terus melaju ingin menusuk hingga mata kiri pun kupejamkan karna ketakutan, dan seketika tangan kanan ku yang juga kasat mata ikut menarik, hingga benda tersebut dapat tergemgam erat lalu  kulemparkan entah kemana benda itu, sejurus itu juga ku terduduk diatas karpet dengan terengah-engah, ternyata hanya mimpi ucapku dalam hati,  namun sedikit aneh bagiku karna  mampu bangun dari mimpi dalam mimpi sekaligus, hufft….ucapku dengan penuh kelelahan. Aku pun berpindah posisi tidur dan berdoa, karna tak ingin hal ini terulang lagi, setelah itu ku terlentangkan badan menghadap kanan dengan harapan itu semua tak terulang lagi.
Saat ku pejamkan mata, pikiran ku masih melayang jauh pada mimpi dalam mimpi tadi yang tentunya sangat tidak kuharapkan apalagi dengan kondisi badan yang sangat lelah ini.

0 komentar :

Posting Komentar