Mimpi dalam Mimpi
Bangunan
pencakar langit yang menjulang tinggi silih berganti menampakkan kekokohannya
dari balik kaca candela kereta,
menandakan suasana Ibu kota semakin terasa, jam pada ponsel ku telah menjunjukkan pukul
01.00 malam, namun angkutan umum dan para porter kereta masih terlihat ramai,”perhatian
pada segenap penumpang kereta joko tingkir, kita telah sampai di stasiun
manggarai, bagi setiap penumpang yang ingin mengakhiri perjalannnya agar segera
bersiap-siap dan memeriksa seluruh barang bawaan anda, segera saja aku bersama
ayahku mengambil semua ransel lalu bergegas turun guna mencari angkutan umum
menuju tempat tinggal sementara kami.
Angkutan biru
ini berhenti tepat di pertigaan jalan, kami pun melanjutkannya dengan berjalan
kaki karna jarak yang akan kami tempuh tidak terlalu jauh dari sini,
gedung-gedung yang tinggi, lalu lalangnya banyak kendaraan dan banyaknya
gelandangan masih menjadi ciri khas kota metropolitan ini, hingga aku pun
sampai tepat di sebuah pintu, tak asing
lagi bagiku inilah tempat persinggahan sementara kami ruangan persegi
berpetak sederhana namun nyaman menurutku, seketika itu
pun kurebahkan badan yang lelah karna perjalanan berhari-hari, di atas karpet
berwarna krem yang cukup tebal. Dengan harapan agar segera kuterlelap dalam
mimpi, namun perkiraanku tidak tepat, aku yang sedari tadi merebahkan badan tak
kunjung tertidur, sampai ketika waktu telah menujukkan pukul tiga malam namun
belum tertidur, sampai ketika ku palingkan badanku ke arah kiri dengan
berbantalkan lengan tangan kiri, kurasakan badan yang amat letih dan mata yang
mulai lelah walau tak kunjung terlelap. Dan seketika itu suasana di
sekelilingku gelap entah apa tak mengerti namun berusaha sekuat tenaga,
berusaha sadar dari entah apa yang kurasa ini tapi, namun aku masih belum mampu
sadar dalam keadaan yang mencekam kesadarnku.
Sekuat tenaga
ku kerahkan tenagaku hingga mampu sadar, namun suasana di sekitarku masih bukan
suasana yang normal, kegelapan aneh menyelimuti sekeliling ruangan ini, hawa
buruk pun terus berhembus, badanku amat terasa berat entah apa yang menimpa tak
sanggup terlihat, usaha-demi usaha kulakukan namun semua itu sirna, aku yang
ingin berteriak pun seolah mulut ini terkunci rapat, ingin sekali ku teriakkan
meminta bantuan tapi semua itu sia-sia, sampai akhirnya aku mampu memalingkan
tubuh menjadi terlentang , tapi entah kenapa kurasa ini masih belum berakhir,
dan ternyata benar saat kumulai sadarkan diri entah kenapa kulihat tangan kiri
ini seolah menghilang namun aku masih mampu merasakan kalau tangan ini ada,
firasatku benar seolah tangan ini telah berpindah pada dimensi lain yang tak
dapat ku jangkau, aku pun yang sedari tadi panik tetap tak mampu menggerakan
badan khususnya sebelah kiri entah apa yang menyebabkan itu terjadi, saat ingin
kutarik tangan kiri ini dengan tangan kananku,tiba-tiba lagi sebagian tangan
kanan yang bersentuhan dengan tangan kiri ini ikut abstrak tak terlihat oleh
mata walau masih dapat kurasakan bahwa, tangan itu ada dan aku masih
merasakannya.
Aku pun yang
semakin panik mencoba memikirkan segala cara, ku mulai memikirkan dimanakah aku
berada sekarang, kutatapi satu persatu benda yang mengelilingiku tampak sarung,
sofa,tas, dan bermacam-macam lainnya
mulai jelas dimataku, untuk kesekian kalinya ku coba untuk berteriak dengan
kencang, tapi seolah mulut ini tlah terkunci, tak sedikit pun terucap. Aku yang
mulai lelah melawan ini semua, perlahan terbuai dalam lelah, bagai ranting
pohon yang sedari lama tlah ingin jatuh mencapai tanah namun masih terikat pada
pohon tersebut hingga angin pun membawanya melambai-lambai, perangai badan ini
seolah tenggelam dalam mimpi namun seketika sebuah benda melaju kencang hendak
menusuk telinga kiri yang aku sendiri tak dapat melihatnya dengan kasat mata,
sebuah benda yang hanya aku rasakan lewat naluri melaju kencang, spontan tangan kiri menahan itu kuat kuat, aku
pun semakin bingung karna benda dan
tangan ini sama-sama tak kasat mata untuk kulihat, benda yang mengarah ke
telinga ku terus melaju ingin menusuk hingga mata kiri pun kupejamkan karna
ketakutan, dan seketika tangan kanan ku yang juga kasat mata ikut menarik,
hingga benda tersebut dapat tergemgam erat lalu kulemparkan entah kemana benda itu, sejurus itu
juga ku terduduk diatas karpet dengan terengah-engah, ternyata hanya mimpi
ucapku dalam hati, namun sedikit aneh
bagiku karna mampu bangun dari mimpi
dalam mimpi sekaligus, hufft….ucapku dengan penuh kelelahan. Aku pun berpindah
posisi tidur dan berdoa, karna tak ingin hal ini terulang lagi, setelah itu ku
terlentangkan badan menghadap kanan dengan harapan itu semua tak terulang lagi.
Saat ku
pejamkan mata, pikiran ku masih melayang jauh pada mimpi dalam mimpi tadi yang
tentunya sangat tidak kuharapkan apalagi dengan kondisi badan yang sangat lelah
ini.

0 komentar :
Posting Komentar